Monday, 24 June 2013

Pesan Rasulullah Kepada Saidatina Fathimatuz Zahra =]

Bismillaahirrahmaanirrahiim Pesan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam Kepada Fathimatuz Zahra Hingga kini, dunia masih terus mengenangnya. Tidak sedikit tetes air mata mengalir tatkala mengingat kebesarannya. Malu rasanya membandingkannya dengan keadaan kita saat ini. Rasa haru seketika menyeruak kalau membaca kembali kisah-kisah perjuangannya; ketika dengan penuh kasih sayang ia mengusap darah suaminya seusai perang dan merawatnya dengan penuh perhatian; saat ia mengambil air sendiri dengan berjalan jauh hingga membekas di dadanya; begitu beraninya ia menginap di rumah Rasulullah sementara 'Ali suaminya, menggantikan tempat tidur Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam saat orang-orang kafir Quraisy mengepung. Fathimah Az Zahra sangat besar perjuangannya. Tidaklah berlebihan jika Rasulullah menegaskan, atas dasar kecintaannya, bahwa manusia pertama yang kelak duduk mendampinginya di surga tidak lain adalah Fathimah. Dia adalah putri dari seorang yang suci. Dia sendiri suci. Dari rahimnya yang suci, kita pernah mendengar nama besar Hasan dan Husain. Ia juga melahirkan Zainab yang dari keturunannyalah kelak Imam Syafi'i mendapat tempat dan perlindungan. Imam Nawawi Al Bantani pernah menuliskan keagungan Fathimah Az Zahra ketika berbicara masalah hak dan kewajiban suami istri bersama Rasulullah. Nabi SAW bersabda kepada putrinya, Hai Fathimah, setiap istri yang membuatkan tepung untuk suami dan anak-anaknya, maka Allah mencatat baginya memperoleh kebajikan dari setiap butir biji yang tergiling, dan menghapus keburukannya serta meninggikan derajatnya. Hai Fathimah, setiap istri yang berkeringat di sisi alat penggilingnya karena membuatkan bahan makanan untuk suaminya, maka Allah memisahkan antara dirinya dan neraka sejauh tujuh hasta. Hai Fathimah, setiap istri yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisirkan rambut mereka dan mencucikan baju mereka, maka Allah mencatatkan untuknya memperoleh pahala seperti pahala orang yang memberi makan seribu orang yang sedang kelaparan, dan seperti pahala orang yang memberi pakaian seribu orang yang telanjang. Hai Fathimah, setiap istri yang mencegah kebutuhan tetangganya, maka Allah kelak akan mencegahnya (tidak memberi kesempatan baginya) untuk minum air dari telaga Kautsar pada hari kiamat. Hai Fathimah, tetapi yang lebih utama dari semua itu adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Sekiranya suamimu tidak meridhaimu, tentu aku tidak akan mendo'akan dirimu. Bukankah engkau mengerti, hai Fathimah, bahwa ridha suami itu menjadi bagian dari ridha Allah, dan kebencian suami merupakan bagian dari kebencian Allah. Hai Fathimah, manakala seorang istri mengandung, maka para melaikat memohon ampun untuknya, dan setiap hari dirinya dicatat memperoleh seribu kebajikan dan seribu keburukannya dihapus. Apabila telah mencapai rasa sakit (menjelang melahirkan) maka Allah mencatatkan untuknya memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Apabila ia telah melahirkan, dirinya terbebas dari segala dosa seperti keadaannya setelah dilahirkan ibunya. Hai Fathimah, setiap istri yang melayani suaminya dengan niat yang benar, maka dirinya terbebas dari dosa-dosanya seperti pada hari dirinya dilahirkan ibunya. Ia tidak keluar dari dunia (yakni mati) kecuali tanpa membawa dosa. Ia menjumpai kuburnya sebagai pertamanan surga. Allah memberinya pahala seperti seribu orang yang berhaji dan berumrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan untuknya hingga kiamat. Setiap istri yang melayani suaminya sepanjang hari dan malam hari disertai hati yang baik, ikhlas dan niat yang benar, maka Allah mengampuni dosanya. Pada hari kiamat kelak dirinya diberi pakaian berwarna hijau, dan dicatatkannya untuknya pada setiap rambut yang ada di tubuhnya dengan seribu kebajikan, dan Allah memberi pahala kepadanya sebanyak seratus pahala orang yang berhaji dan berumrah. Hai Fathimah, setiap istri yang tersenyum manis di muka suaminya, maka Allah memperhatikannya dengan penuh rahmat. Hai Fathimah, setiap istri yang menyediakan diri tidur bersama suaminya dengan sepenuh hati, maka ada seruan yang ditujukan kepadanya dari langit. "Hai Wanita, menghadaplah dengan membawa amalmu. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang berlalu dan yang akan datang." Hai Fathimah, setiap istri yang meminyaki rambut suaminya demikian pula jenggotnya, memangkas kumis dan memotong kuku-kukunya, maka Allah kelak memberi minum kepadanya dari rahiqim makhtum (tuak jernih yang tersegel) dan dari sungai yang ada di surga. Bahkan Allah kelak akan meringankan beban sakaratul maut. Kelak dirinya akan menjumpai kuburnya bagaikan taman surga. Allah mencatatnya terbebas dari neraka dan mudah melewati sirath (titian). (bay/Uqudul Lujain karya Imam Nawawi Al Bantani, dari buku Disebabkan Oleh Cinta, Fauzil Adhim)

Saturday, 22 June 2013

Assalamualaikum .. Sobahalkhair =)

Assalamualaikum .. sobahalkhair ,, dah sarapan ke belum niey ?? bagun lagi matahari nak terangkat da ~~ hehe .. Ana dah bagun dari tadi cuma belum sarapan jew .. AHAA !! Lupe2 .. Dah Solat Subuh ke Belum tadi ?? .. Ana dah tadi cuma .. hari niey ana tak beberapa shat .. selesema melanda .. hehe .. Oke ! Mulakan Pagi niey dengan Bissmillahirahhmanirahim ... =)

Tuesday, 11 June 2013

ツ Apabila wanita telah mengerjakan ツ

Apabila wanita telah mengerjakan
---> sembahyang lima waktu .
---> puasa dibulan Ramadhan .
---> menjaga kehormatan dari perkara yang haram .
---> taat kepada suaminya .
maka dipersilakan bagi dirinya kemana-mana pintu syurga yang dia suka .
hadis riwayat : Ahmad.
Sumber : Ciri-ciri Wanita Solehah .
MukaSurat : 46 .

Muslim Show


Perasan tak , dalam solat pun kita sibuk nk tnjukkan siapa lagi hebat, siapa lagi dasyat duduk tahiyat, tanpa menyedari solat kita itu diterima atau tidak??

ツ Keutamaan Surah Al Mulk ツ

Pertama: Memang banyak fadhilah dan keutamaan dari surat al-Mulk, diantaranya yang shohih (bisa dijadikan pegangan) adalah:

Dari Abu Hurairoh, Nabi s.a.w. bersabda: “Ada surat dari Alqur’an yang terdiri dari 30 ayat, Surat tersebut dapat memberikan syafa’at bagi ‘temannya’ (yakni orang yang banyak membacanya) sehingga orang tersebut diampuni dosanya, yaitu: Surat Tabarokalladi bi yadihil mulk“.
(HR. Abu Dawud dg redaksinya, diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi dan yang lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, dan adz-Dzahabi,)

Anas bin Malik mengatakan, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ada surat dari Alqur’an, ia hanya terdiri dari 30 ayat, Surat tersebut dapat membela ‘temannya’ sehingga memasukkannya ke surga, yaitu: Surat Tabarok“.
(HR. Thobaroni dalam Mu’jamul Ausath, dalam Shohihul Jami’)

Abdullah bin Mas’ud mengatakan: “Barangsiapa membaca surat Tabarokalladi bi yadihil mulk setiap malam, maka Alloh azza wajall menghindarkannya dari adzab kubur, dan dahulu kami (para sahabat) di saat Rasulullah s.a.w. (masih hidup) menamainya “al-Mani’ah” (penghindar/penghalang). Sungguh surat tersebut ada dalam Kitabullah, barangsiapa membacanya dalam suatu malam, maka ia telah banyak berbuat kebaikan”
(HR. Nasa’i dengan redaksinya, diriwayatkan pula oleh al-Hakim dan ia mengatakan: sanadnya shohih,)

Dari Jabir, sesungguhnya Nabi s.a.w. tidak pernah tidur (malam) sehingga ia membaca surah Alif lam mim tanzil (biasa disebut Surat as-Sajdah) dan surah Tabarokalladi bi yadihil mulk (biasa disebut surat al-Mulk).
(HR. Ahmad, at-Tirmidzi )

Kedua: Fadhilah Surat Al-Mulk akan diraih oleh mereka yang banyak membacanya, terutama di waktu malam menjelang tidur, sebagaimana diterangkan dalam hadits no: 3 dan 4. Jadi tidak tepat kalau dikatakan bahwa keutamaan tersebut hanya khusus bagi mereka yang menghafalnya saja.

Ketiga: Waktu untuk membaca Surat Al-Mulk ini adalah pada bila-bila masa sahaja, akan tetapi Rasulullah s.a.w. biasa membacanya saat menjelang tidur malam.

Keempat: Melihat keterangan hadits-hadits di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa memperbanyak membaca Surat Al-Mulk dapat menghindarkan seseorang dari siksa kubur dan siksa neraka.

Kelima: Perlu kami ingatkan di sini, bahwa banyak sekali hadits-hadits tentang keutamaan surat Alqur’an yang dhoif (lemah) bahkan maudhu’ (palsu). Oleh karena itu, hendaklah kita berhati-hati dalam menerima keterangan tentang keutamaan surat Alqur’an, agar kita tidak terjatuh dalam amalan yang bukan sunnah dan kepercayaan yang tak berdasar.